Internasional

Iran Diguncang Demonstrasi, 646 Tewas dan Khamenei Sebut AS Pemicu Kerusuhan

×

Iran Diguncang Demonstrasi, 646 Tewas dan Khamenei Sebut AS Pemicu Kerusuhan

Sebarkan artikel ini
Iran Diguncang Demonstrasi, 646 Tewas dan Khamenei Sebut AS Pemicu Kerusuhan
Doc. Foto: BBC News Indonesia

KOROPAK.COM – Iran kembali menjadi sorotan dunia setelah demonstrasi besar-besaran mengguncang negara itu, menewaskan 646 orang. Amerika Serikat (AS) dan sekutunya memberi peringatan bahwa pemerintahan Iran bisa runtuh jika terus menanggapi aksi protes dengan kekerasan.

Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menilai AS punya motif lain di balik perhatian internasional tersebut, yakni mengincar kekayaan minyak negara itu. Khamenei juga menduga adanya campur tangan Amerika dalam kerusuhan yang belakangan terjadi.

“Mereka memulai konflik ini. AS yang memulainya, musuh yang bergantung pada AS yang memulai ini. Mengapa mereka memulai ini? Mengapa AS begitu muak dan marah terhadap Iran? Alasannya jelas. Itu karena kekayaan negara ini,” ucap Khamenei, dikutip Selasa (14/1/2026).

Demonstrasi kali ini mengikuti pola protes massal yang sama seperti pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini. Warga menuntut keadilan dan transparansi, namun pasukan keamanan menindak pendemo dengan kekerasan. Meski pergantian rezim tidak langsung terjadi, sejumlah faktor menunjukkan rezim Khamenei mulai melemah.

Sejak agresi Israel ke Palestina, Iran keras mengecam pemerintahan Benjamin Netanyahu. Milisi yang didukung Iran melancarkan serangan ke Israel sebagai solidaritas terhadap warga Palestina. Beberapa bentrokan tercatat pada Oktober 2024 dan Juni 2025, yang dikenal sebagai Perang 12 Hari.

“Serangan terakhir membuat pertahanan Iran berkurang meski mereka mengeklaim senjata andalannya belum dikeluarkan dan kehancurannya tak seberapa,” tulis CNN, dikutip detikcom.

BACA JUGA:  40 Ribu Tewas, Negosiasi Gencatan Gaza Berlanjut

Jika AS dan Israel melancarkan serangan baru, pertahanan Iran diprediksi kian melemah.

Mantan Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan ancaman terhadap Iran dengan dalih melindungi warga sipil. Setelah Perang 12 Hari, Iran diharuskan menyiapkan strategi baru menghadapi kemungkinan serangan militer dan sanksi yang lebih ketat.

AS juga berpotensi menargetkan para pemimpin milisi Basij dan bekerja sama dengan perusahaan teknologi untuk memantau komunikasi di Iran. Sekutu AS pun bisa dijadikan bagian dari upaya menjatuhkan sanksi terhadap Teheran.

Ayatollah Khamenei kini berusia 86 tahun dan memasuki dekade keempat kekuasaannya. Ketidakhadiran Khamenei dari pandangan publik selama perang Juni tahun lalu menimbulkan pertanyaan tentang stabilitas kekuasaan.

Banyak ajudan dan pejabat penting gugur dalam Perang 12 Hari, menguji kekompakan aparat dalam pengambilan keputusan. Situasi ini membuka kemungkinan evolusi teokrasi menjadi negara nasionalis garis keras yang dikuasai struktur keamanan.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan milisi Basij tetap menekan tuntutan rakyat dengan kekerasan. Namun krisis suksesi dan keresahan rakyat yang meluas menciptakan kondisi unik yang bisa memicu perubahan revolusioner, serupa dengan pemberontakan yang melahirkan Republik Islam 47 tahun lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!