Peristiwa

BMKG Imbau Warga Waspada Hujan Lebat di Sumatera Selatan hingga Nusa Tenggara

×

BMKG Imbau Warga Waspada Hujan Lebat di Sumatera Selatan hingga Nusa Tenggara

Sebarkan artikel ini
BMKG Imbau Warga Waspada Hujan Lebat di Sumatera Selatan hingga Nusa Tenggara
Doc. Foto: tempo.co

KOROPAK.COM – JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem yang diprediksi melanda sebagian wilayah Indonesia menjelang akhir Januari 2026. Wilayah terdampak meliputi Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, hingga Nusa Tenggara.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan gangguan atmosfer saat ini memicu pertumbuhan awan konvektif secara signifikan. Kondisi ini berpotensi menimbulkan banjir, tanah longsor, dan gangguan pada transportasi.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun tetap meningkatkan kewaspadaan dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem menjelang akhir Januari ini. Dinamika atmosfer saat ini memang menunjukkan adanya peningkatan pertumbuhan awan hujan di wilayah selatan Indonesia, namun dengan kesiapsiagaan yang baik dan terus memantau informasi resmi dari BMKG, kita dapat meminimalisir risiko bencana,” ujar Faisal dikutip dari keterangan resmi BMKG, Jumat (23/1/2026).

Faktor pemicu cuaca ekstrem

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan beberapa faktor teknis yang memengaruhi kondisi cuaca sepekan ke depan. Salah satunya adalah Bibit Siklon Tropis 97S di Samudra Hindia selatan Indonesia, dengan kecepatan angin maksimum 15 knot (28 km/jam) dan tekanan udara 1001 hPa.

“Pergerakan sistem 97S ke arah barat dapat memicu penguatan pertemuan serta belokan angin dari pesisir barat Sumatera hingga Nusa Tenggara, yang dapat memicu peningkatan pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia bagian selatan,” jelas Andri.

BACA JUGA:  Empat Anggota Silat Boyolali Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan

Selain itu, Monsun Asia yang menguat hingga 23 Januari 2026, disertai seruakan dingin (cold surge) dari daratan Asia, meningkatkan kecepatan angin di Laut China Selatan dan memicu pertumbuhan awan hujan masif di selatan khatulistiwa.

Fenomena atmosfer lain seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Equator, dan Kelvin, yang didukung nilai OLR negatif, turut memperkuat pembentukan awan Cumulonimbus. Kelembapan udara tinggi pada lapisan bawah hingga menengah atmosfer serta labilitas atmosfer yang kuat, mendukung proses konvektif skala lokal.

Prediksi wilayah terdampak

BMKG memprakirakan hujan lebat disertai kilat dan angin kencang akan melanda sebagian besar wilayah Indonesia secara bergantian. Pada 23 Januari 2026, cuaca ekstrem melanda DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB, dan NTT.

Pada 24 Januari, potensi cuaca ekstrem diprediksi berlanjut di Jawa Tengah dan Jawa Timur, sementara Bali, NTB, dan NTT diperkirakan mengalami peningkatan curah hujan pada 25 hingga 26 Januari.

BMKG menekankan masyarakat di provinsi-provinsi terdampak untuk meningkatkan kewaspadaan guna mengantisipasi risiko bencana hidrometeorologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!