KOROPAK.COM – JAKARTA – Jenazah Alvaro Kiano Nugroho akhirnya dimakamkan pada Kamis (4/12/2025), delapan bulan setelah bocah itu dilaporkan hilang dan belakangan ditemukan dalam kondisi tak bernyawa.
Prosesi pemakaman berlangsung haru di kawasan Tanah Wakaf Jami Al Muflihun, tidak jauh dari masjid tempat Alvaro terakhir terlihat sebelum menghilang.
Usai dishalatkan di masjid, peti kecil berwarna putih dibawa oleh petugas kepolisian berjas hujan hijau neon menuju area pemakaman. Di bawah tenda, liang lahad telah disiapkan. Nenek, ibu, dan kakak perempuan Alvaro duduk menunggu dengan tatapan kosong, masih terkejut dan berduka.
Saat rombongan pembawa peti tiba, lantunan kalimat syahadat terdengar mengiringi langkah mereka memasuki area pemakaman. Seorang anggota keluarga membawa foto Alvaro mengenakan seragam pilot, simbol cita-citanya.
Sang kakek berdiri di sisi pusara, sementara kakak perempuan Alvaro, Kila, menutupi wajahnya dengan kerudung karena tak kuasa menahan tangis. Sang ibu, Arum, mengusap bahunya untuk menenangkan satu-satunya anak yang kini masih berada di sisinya.
Setelah seluruh prosesi pemakaman selesai, para pelayat meninggalkan area makam. Arum tampak kesulitan berdiri karena kehilangan kekuatan akibat duka yang mendalam.
Ia dibantu ibunya dan kerabat lain berjalan meninggalkan makam. Sebelum beranjak, Arum kembali mengusap permukaan makam yang telah ditaburi bunga, sementara Kila memainkan kelopak bunga yang tertinggal di tangan, seolah enggan melepaskan momen terakhir bersama sang adik.
Kronologi Hilangnya Alvaro
Alvaro menghilang selama delapan bulan sejak Maret 2025. Ia diduga diculik oleh ayah tirinya, Alex Iskandar, yang mengaku hendak menjemput anak itu.
Pencarian keluarga tak membuahkan hasil hingga polisi menangkap Alex dalam serangkaian pemeriksaan. Namun beberapa hari setelah ditahan, Alex mengakhiri hidupnya di ruang konseling Mapolres Jakarta Selatan.
Kapolres Jakarta Selatan, Kombes Nicolas Ary Lilipaly, menjelaskan awal mula kejadian. Menurut dia, Alex menjemput Alvaro dengan dalih mengajaknya membeli mainan ke mal. Namun sebelum itu, Alex membawa Alvaro ke rumahnya di Tangerang untuk mandi.
Di sana, Alvaro mulai gelisah karena ayah tirinya mandi terlalu lama dan meminta diantar pulang ke rumah kakek dan neneknya di Pesanggrahan.
“Tak sanggup mendengar tangis Alvaro, Alex kemudian mengambil handuk yang tergantung di rak dan membekap mulut anak tirinya. Ia lalu mencekik dan menindih tubuh Alvaro hingga sang bocah berhenti bernapas,” ujar Nicolas.
Karena panik, Alex berusaha menghilangkan barang bukti korban. Ia mengikat tubuh Alvaro dengan tali, memasukkannya ke dalam plastik hitam, dan menyimpannya di garasi rumah dalam mobil selama kurang lebih tiga hari.
Setelah jasad mulai membusuk, Alex mencari lokasi lain dan membawa tubuh Alvaro ke bawah Jembatan Cilalay, Bogor, tempat pembuangan sampah ilegal. Ironisnya, Alex sempat membantu keluarga membuat laporan kehilangan ke Polsek Pesanggrahan, sehingga polisi tidak langsung mencurigainya.
“Karena pada saat penjemputan itu dia mengaku, ‘saya mau jemput anak saya.’ Sedangkan juga kakek daripada si AKN ini juga meminta bantuan ayah tirinya untuk mencari,” tutur Nicolas.











